Bagaimana The Urban Mama (TUM) Membuat Saya Tumbuh Menjadi Ibu

IMG_5304

Saya memang jarang menulis dalam bahasa Indonesia di blog ini, tapi untuk kali ini saya merasa saya harus menggunakan bahasa ibu saya, karena tulisan ini akan menjadi refleksi akan proses saya menjadi ibu. Segalanya akan ibu. Bagaimana kekuatan dari informasi dan komunitas online The Urban Mama dan Forumnya telah membantu saya melewati banyak hal selama setahun terakhir.

Baru beberapa hari yang lalu saya memberanikan diri saya untuk memposting salah satu tulisan saya di forum The Urban Mama. Saya sudah lama tidak posting dikarenakan kesibukan dan rutinitas saya yang mulai meningkat pesat. Respons kawan-kawan amat positif, saya terharu dan saya semakin terharu karena teman seperjuangan saya yang memposting tema orangtua tunggal di forum akhirnya pun berani menuliskan apa yang dialaminya. Saya amat bangga dengan kekuatan dari solidaritas sesama ibu yang terjalin selama setahun terakhir di TUM Forum. Katakanlah kita sama-sama tidak saling mengenal secara fisik, namun dalam proses kita sebagai orangtua dan bagi saya sebagai seorang ibu, kita berbagi begitu banyak. Saya sungguh bangga.

Saya mengenal TUM dari salah satu posting di twitter, saya lupa oleh siapa. Pertama kali membuka website The Urban Mama, saya langsung jatuh cinta. Baru saya sadari bahwa saya mendaftar di forum tepat pada hari ibu, setahun yang lalu. Tampilan website TUM simple dan cantik, juga hangat. Sebagaimana saya senang melihat perkembangan anak saya dari hari ke hari, saya senang bagaimana TUM telah berkembang sampai sejauh ini. Saya seperti melihat TUM sebagai anak komunitas online bersama. Tidak terasa sudah setahun. Anak saya sendiri sudah 2,5 setahun dan kami sudah melewati begitu banyak berdua. Kami pun berbagi segala pengalaman kami dengan teman-teman di forum.

Saya tidak pernah merasa saya memiliki syarat menjadi ibu. Gaya hidup saya, pilihan hidup saya dan hal-hal yang saya percaya dalam hidup mungkin bukanlah suatu yang tipikal untuk menjadi ibu yang baik. Tapi hidup bergulir, saya seorang perempuan dan saya tidak bisa menyangkal pengalaman tubuh saya. Menjadi ibu membuat hidup saya lengkap, membuat pemaknaan serta pemahaman akan diri saya ke tahapan yang lain. Membuat saya memiliki kekuatan yang tidak saya percaya saya miliki sebelumnya, membuat saya membongkar banyak hal akan diri dan hidup saya. Kehidupan memiliki makna yang mendasar, bahwa segalanya patut untuk saya perjuangkan dan tak ada lagi yang sia-sia.

Mungkin situasi saya ketika saya memiliki anak saya bukanlah sebuah situasi yang ideal. Namun kehidupan selalu memiliki jalannya masing-masing. Saya kehilangan ibu saya beberapa tahun sebelum saya memutuskan untuk punya anak dan ketika anak saya berumur dua bulan, ayah saya menyusulnya. Saya terpukul, saya tidak tahu apakah saya akan siap menjadi orangtua ketika kedua orang tua saya sudah tiada. Belum lagi kehidupan personal saya penuh dengan lika liku yang tidak sederhana. Pada kenyataan yang lain ternyata tidak semudah itu membicarakan apa yang saya alami bahkan dengan teman-teman dekat saya sendiri, terutama ketika mereka belum memiliki anak. Saya membutuhkan teman bicara yang bisa memahami posisi saya sebagai seorang ibu yang baru, dengan segala kompleksitas dan persoalannya. Ketika anak saya lahir, saya melupakan kehidupan sosial saya dan terfokus penuh kepada anak saya. Dalam proses ini, saya menemukan TUM.

TUM banyak mengajari saya. Segala interaksi yang terjadi di forum sangat membantu saya untuk menjalani hari-hari saya sebagai ibu. Ketika saya harus berpisah dengan mantan suami saya, lalu mengalami sebuah periode yang cukup kacau terkait dengan perubahan psikologis dan juga kesehatan anak saya, TUM membantu untuk memberikan saya jawaban-jawaban. Misalnya ketika anak saya sakit, tips-tips membesarkan anak, berbagi cerita bersama mengenai apapun dan lain sebagainya. Saya merasa tumbuh bersama dengan TUM, perlahan semakin menikmati peran saya sebagai orangtua dan segala prosesnya. TUM dan forum juga memberikan saya kekuatan untuk menjalani hidup saya. TUM membuat saya merasa saya tidak pernah sendirian. Segalanya hanya sejauh satu klik dan beberapa tombol dari layar laptop saya. Menemukan TUM memudahkan hidup saya sebagai orangtua bagi anak saya.

Saya belum pernah mengikuti kopi darat, tapi walaupun terpisah secara geografis, melihat proses masing-masing dari kita menjadi orang tua amatlah menyenangkan. Saya harus sepakat dengan tagline TUM – there is always a different story in every parenting style. Inilah hal yang mendasar yang membuat saya betah bolak balik menengok TUM. Saya selalu menemukan cerita-cerita yang menakjubkan, inspiratif, percakapan-percakapan yang selalu hangat dan terbuka. Saya menjadi lebih percaya diri menjalani peran saya sebagai ibu, bahkan jika sekarang saya harus menjalaninya sebagai seorang orang tua tunggal.

Saya amat berterimakasih dan bersyukur ketika saya menemukan TUM. Saya bisa mengatakan bahwa saya adalah seorang ibu sekarang, even if it’s a bit of a punk mom. Tulisan ini saya dedikasikan kepada para ibu dan TUM, terimakasih telah mau berbagi dan saling menginspirasi satu sama lain. Hal yang paling indah dalam kehidupan adalah melihat sesuatu tumbuh. Selamat ulang tahun yang pertama, TUM. Terimakasih telah menemani perjalanan saya menjadi ibu yang sebenarnya.

The Urban Mama Writing Contest

7 thoughts on “Bagaimana The Urban Mama (TUM) Membuat Saya Tumbuh Menjadi Ibu”

  1. Waahhh, terasa banget ceritanya yang kehilangan org2 tersayang..Nice story mom.. Sukses selalu !! dan selamat juga telah menjadi Finalis. ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s